Ada atlet yang punya cara latihan cukup unik: bukan cuma lari, angkat beban, atau bersepeda, tapi justru tidur di tempat yang ketinggiannya bisa mencapai ribuan meter di atas permukaan laut. Metode ini dikenal sebagai sleep high, bagian dari konsep latihan ketinggian yang cukup populer di kalangan atlet endurance. Salah satu tempat yang sering dijadikan gambaran latihan seperti ini adalah Flagstaff, Arizona, Amerika Serikat, yang berada di sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut. Ada juga kawasan seperti Font-Romeu, Prancis, yang berada di dataran tinggi dan dikenal sebagai lokasi latihan atlet. Sekilas memang terdengar seperti atlet sengaja bikin hidup lebih susah. Namun, ada alasan fisiologis di baliknya: udara di ketinggian memiliki tekanan oksigen lebih rendah sehingga tubuh dipaksa beradaptasi.
1. Tubuh dipaksa beradaptasi dengan oksigen yang lebih sedikit.
Di dataran tinggi, jumlah oksigen dalam setiap tarikan napas sebenarnya bukan tiba-tiba hilang, tetapi tekanan parsial oksigennya lebih rendah. Kondisi ini membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen yang dibutuhkan.
2. Produksi sel darah merah bisa meningkat.
Paparan ketinggian dalam durasi tertentu dapat merangsang tubuh meningkatkan produksi hormon eritropoietin atau EPO. Hormon ini berperan dalam pembentukan sel darah merah yang membawa oksigen ke jaringan tubuh.
3. Tidur di ketinggian memberi paparan lebih lama.
Kalau latihan di dataran tinggi hanya dilakukan beberapa jam, tubuh mendapatkan paparan yang terbatas. Dengan tidur di sana, atlet bisa berada dalam kondisi rendah oksigen selama berjam-jam. Inilah yang menjadi salah satu alasan metode sleep high menarik perhatian atlet endurance.
4. Latihan tidak selalu harus dilakukan dalam kondisi ekstrem.
Ada konsep yang dikenal sebagai live high, train low. Atlet tinggal atau tidur di ketinggian untuk mendapatkan stimulus adaptasi, tetapi latihan intensitas tinggi dilakukan di tempat yang lebih rendah. Tujuannya supaya mereka tetap mendapat manfaat paparan ketinggian tanpa membuat kualitas latihan turun drastis.
Secara ilmiah, tubuh manusia memang punya sistem adaptasi terhadap kondisi rendah oksigen atau hipoksia. Ketika oksigen yang tersedia berkurang, tubuh merespons lewat beberapa mekanisme, termasuk perubahan ventilasi dan peningkatan sinyal yang berkaitan dengan produksi sel darah merah. Dalam konteks olahraga, perubahan ini dianggap berpotensi membantu kemampuan tubuh mengangkut oksigen, terutama untuk cabang olahraga seperti lari jarak jauh, bersepeda, dan olahraga endurance lainnya. Tapi bukan berarti semakin tinggi tempat tidur, semakin hebat pula hasilnya. Paparan ketinggian yang terlalu ekstrem justru bisa mengganggu kualitas tidur, menyebabkan sakit kepala, kelelahan, atau menurunkan kemampuan latihan. Jadi, metode ini bukan sekadar tren atlet yang ingin terlihat keren. Ada dasar fisiologinya, tetapi penerapannya harus terukur karena respons setiap tubuh terhadap ketinggian bisa berbeda.
Pada akhirnya, tidur di ribuan meter bukan berarti atlet sedang mencari tempat tidur paling ekstrem. Mereka sebenarnya sedang memanfaatkan cara tubuh beradaptasi dengan lingkungan untuk mendukung performa. Unik memang, tapi di baliknya ada proses biologis yang cukup masuk akal.