Kalau biasanya stadion sepak bola identik dengan rumput hijau, gawang, dan pemain yang kejar-kejaran bola, pemandangan berbeda bisa ditemukan di Gressbanen, kawasan Holmen, Oslo, Norwegia. Stadion yang dibuka sejak 1918 ini memang punya sejarah panjang sebagai lapangan sepak bola, bahkan pernah menjadi markas tim nasional Norwegia pada periode 1919 hingga 1927. Tapi begitu musim dingin datang, suasananya berubah total. Lapangan yang pada musim panas digunakan untuk sepak bola dengan permukaan rumput sintetis justru diubah menjadi arena es buatan. Jadi, satu tempat bisa punya dua “kehidupan” berbeda dalam setahun: sepak bola saat cuaca lebih hangat dan olahraga es ketika suhu mulai turun.
- Lapangan sepak bola bisa berubah fungsi menjadi arena bandy. Saat musim dingin, permukaan utama Gressbanen dibuat menjadi arena es buatan yang digunakan untuk bandy, olahraga yang sekilas mirip gabungan sepak bola dan hoki es. Pergantian fungsi ini membuat satu fasilitas bisa dipakai untuk cabang olahraga yang benar-benar berbeda.
- Perubahannya bukan sekadar karena salju turun. Gressbanen memang mempunyai sistem permukaan yang dirancang untuk penggunaan berbeda berdasarkan musim. Rumput sintetis digunakan pada musim panas, sementara artificial ice dipakai pada musim dingin. Bahkan, penggunaan lapangan untuk bandy sudah berlangsung sejak 1935.
- Ada lapangan kecil yang ikut berubah saat musim dingin. Kompleks Gressbanen bukan cuma punya lapangan utama. Area latihan yang menggunakan permukaan kerikil pada musim panas juga dapat berubah menjadi lapangan es alami ketika musim dingin tiba. Jadi, perubahan musim benar-benar memengaruhi hampir seluruh aktivitas olahraga di kompleks ini.
- Model seperti ini bikin fasilitas olahraga lebih maksimal. Daripada sebuah lapangan hanya aktif untuk satu jenis olahraga sepanjang tahun, Gressbanen bisa mengikuti kondisi iklim Oslo. Ketika musim sepak bola berlangsung, lapangan digunakan untuk pertandingan dan latihan. Saat musim dingin datang, fasilitas tersebut beralih mendukung olahraga es dan bandy.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah dan urban, konsep seperti Gressbanen sebenarnya cukup masuk akal untuk kota dengan musim dingin panjang. Temperatur yang rendah membuat air bisa membeku, tetapi untuk menghasilkan permukaan es olahraga yang stabil, pengelola tidak cukup hanya mengandalkan salju atau suhu alam. Karena itu digunakan sistem pendinginan dan pengelolaan permukaan untuk menghasilkan artificial ice. Secara tata kota, perubahan fungsi berdasarkan musim juga membuat lahan olahraga menjadi lebih efisien. Satu area bisa terus hidup sepanjang tahun tanpa harus membangun fasilitas baru untuk setiap cabang olahraga. Pola ini juga menunjukkan bagaimana desain fasilitas publik di kota beriklim dingin harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Gressbanen sendiri memiliki lapangan utama berukuran sekitar 105 × 65 meter dan menjadi salah satu arena bandy dengan permukaan es buatan di Norwegia.
Jadi, Gressbanen bukan cuma soal sepak bola. Begitu musim berganti, lapangan hijau bisa berubah menjadi arena es dan menghadirkan suasana olahraga yang benar-benar berbeda. Di Norwegia, pergantian musim ternyata bukan cuma mengubah cuaca, tapi juga bisa mengubah wajah sebuah stadion.